Subscribe to
Posts
Comments

Artikel Bh. Indonesia

Seni & Filsafat Gaya Bunjin Dalam Bonsai

 

 

   “ Saat alam menari penuh makna,

Semesta berseri senyum terpana…

Saat liukan tubuhmu penuh gairah,

Lirikan jalangku menahan goda…”

 

 

Selama ini terdapat suatu pengertian yang salah kaprah terhadap gaya “Bunjin” dalam Bonsai. Ada yang mengatakan gaya Bunjin adalah gaya “Tua renta”, Bonsai tersebut harus terkesan kurus, tinggi, tua dan merana…  Saya kurang paham, dari mana asal-usul pengertian tersebut, mungkin hanya rekaan sendiri; padahal, gaya ini jelas-jelas disebut sebagai “Bunjin” (Bh. Jepang) atau “Literati” (Bh. Inggris) yang artinya adalah “Pujangga”; dalam bh. Mandarin disebut “Wen-ren”.

 

Menurut buku dan literatur seni Bonsai Cina, sangat gamblang diulas mengenai asal-usul, sejarah gaya tersebut baik dari segi budaya maupun politik yang mempengaruhinya serta makna filosofisnya.

Seperti kita ketahui, seni Bonsai berasal dari Cina dan sudah berkembang lebih dari 1300 tahun yang lalu pada jaman Dinasti Tang.  Pada saat itu, perkembangan seni sangat pesat, baik seni lukis, patung maupun kaligrafinya dan pengetahuan sastra adalah identik dengan jabatan di pemerintahan.

Oleh sebab itu, banyak bermunculan para pujangga, sastrawan dan cendekiawan yang mempunyai posisi penting di kerajaan karena saat itu system rekrut adalah dengan ujian negara, dan penguasaan seni dan syair adalah salah satu aspek tolok ukurnya.

Bersamaan, seni Bonsai (yang saat itu disebut Penjing) berkembang pesat sebagai salah satu objek seni dalam kalangan kerajaan dan para elit.

Seni Bonsai Cina tidak terlepas dari pengaruh seni lukis Cina, syair maupun seni budaya tradisionil termasuk seni kaligrafi. Dari sinilah kemudian menjadi salah satu inspirasi para seniman Bonsai yang melahirkan gaya Bunjin yang disebut “Shu hua shi penjing” dengan meniru gaya, karakter dan estetika seni kaligrafi yang duluan berkembang; lalu dikemudian hari disebut juga “Wen ren shu” atau penjing gaya pujangga karena yang menciptakannya adalah para pujangga, bukan gaya tua renta seperti pujangga miskin yang sengsara !

Bunjin adalah sebuah gaya seni Bonsai yang sangat penuh filosofi budaya, romantika lirikal sastra, makna intelektual; kaya akan garis dan bentuk yang ekspresionis imaginatif; sehingga dalam cara appresiasinya-pun memerlukan tingkatan wawasan yang memadai dengan renungan dan penafsiran, disertai pemahaman estetika yang kontekstual.

Bunjin adalah sebuah karya yang sangat personal karena di dalamnya terkandung emosi sang artis yang sangat meditative dan contemplative. Dalam hal ini, objek pohon tersebut sekedar medium bagi sang artist dalam merefleksikan gagasan yang ingin disampaikan baik secara implicit maupun eksplicit.

Pada salah satu literatur seni Penjing yang ditulis oleh Shao Hai Zhong, seorang Master Penjing di Shanghai, dirumuskan beberapa karakter dan kriteria Bonsai gaya Bunjin sesuai dengan karakter kaligrafi Cina.

              

 “Zhong xin ping wen”

Penerapan konsep komposisi yang asimetris tetapi berimbang dengan fondasi yang kokoh. Dalam seni kaligrafi Cina, walaupun setiap guratan garis individu bisa saja terkesan kegelisahan yang tidak berimbang, tetapi pada komposisi keseluruhan harus tetap menampilkan keseimbangan yang harmonis.

Sebagai contoh, karya salah seorang maestro kaligrafi Cina, Zhang Da qian  justru terkenal karena karakter garisnya yang tidak berimbang, tetapi terbingkai dalam suatu komposisi yang unik dan berkarakter.

Dalam hal ini, ukuran dan bentuk wadah tanam menjadi salah satu elemen komposisi yan sangat penting dalam menunjang keseimbangan penampilan keseluruhan.

 “Dou zhong qiu zheng”

Penerapan konsep keseimbangan visual (visual balance). Walau ritme pohon tidak tegak vertical dan penuh dengan gerak yang dinamis dan dramatis, tetapi keseimbangan visual yang harmonis sangat penting. Setiap liukan harus diimbangi dengan manuver yang menghasilkan keseimbangan visual.

 “Shang mi xia shu”

Bunjin adalah suatu gaya yang meniru seni kaligrafi Cina. Struktur kanopi, penempatan percabangan dan ranting serta garis utama batang harus mengesankan kesederhanaan yang ramping dan anggun.

Bunjin harus mampu merefleksikan nuansa yang lirikal, puitis dan romantis.

 “Shu mi de yu”

Lebat tetapi tidak rumit.  Alur cabang dan ranting harus jelas dan transparan. Ada istilah “Mi ke yong zhen, xu ke pao ma” yang menjelaskan konsep ruang kosong. Penataan ruang kosong pada gaya ini sangat penting dan dituntut suatu kejelian tinggi dalam teori komposisi.

 “Chan cha bian hua”

Alur, ritme, tekukan, pelintiran gerak batang, cabang dan ranting harus bervariasi, dinamis dan tidak monoton; tetapi tidak terkesan kontradiktif dan chaos. Dalam gaya Bunjin, garis dasar yang dipakai bisa saja tergabung dari beberapa jenis karakter garis ( ump. garis zigzag yang energik disertai dengan maneuver garis meliuk dan di-release dengan tarikan garis yang luwes); tetapi sangat dibutuhkan kepiawaian dalam pengolahan garis-garis tersebut sehingga terkemas dalam suatu harmonisasi yang sinkron dan sinergis.

 “Qu rou zhi gang”

Alunan ritme dan gerak harus lembut, tetapi goresan harus penuh energi dan tenaga ibarat gerak senam “Taichi”. Kombinasi antara guratan yang tegas harus diimbangi dengan tarikan yang luwes sehingga terjadi suatu keseimbangan energi yang sinkron dan harmonis.  Hal tersebut tidak terlepas dari filsafat “Yin & Yang” yang mengutamakan keseimbangan universal dengan aliran “Qi” yang sempurna.

Oleh sebab itu, ada suatu ilmu di mana melalui goresan dan gerak tulisan; karakter, emosi dan kondisi kesehatan seseorang dapat dibaca.

Dari uraian di atas, seyogianya gaya Bunjin kita terjemahkan sebagai “Gaya Kaligrafi”, dan bukan “Tua renta”  !

 

——————————————————————————————————–

 

Bonsai dan Penjing 

(Oleh : Robert Steven)

 

Banyak yang bertanya : apakah Penjing sama dengan Bonsai ?

Jawabannya adalah “ya” dan “tidak”, tergantung pada konteks mana kita membicakannya.

Sampai saat ini, di banyak negara, termasuk di Indonesia, masih banyak yang salah kaprah mengenai pengertian “Penjing”. Banyak yang menganggap semua Bonsai yang bernuansa landscape atau panorama adalah Penjing, gaya grouping yang memakai pot tipis adalah Penjing, atau ada yang ada patung, pagoda atau asesori adalah Penjing. Padahal tidak demikian halnya.

Dapat kita lihat masih banyak yang menyamakan seni Penjing dengan Bonsai; tetapi di kesempatan lain, membahas Penjing sebagai satu bentuk seni tersendiri dengan pengertian konsep yang tidak jelas; bahkan ada yang menganggap Bonsai dan Penjing tidak dapat di-kontes-kan bersama.

Ini adalah karena sangat jarang ada buku, artikel atau literatur seni Penjing karangan para Master Penjing Cina yang diterjemahkan ke bahasa asing. Untuk itu, saya sangat bersyukur dapat berbahasa Cina sehingga dapat mempelajari buku maupun literatur seni Penjing dan berdiskusi dengan para master Penjing di negeri Cina yang kebetulan sangat sering saya kunjungi. 

Kita mulai dari arti yang sebenarnya dari “Bonsai” dan “Penjing”. “Bonsai” adalah bahasa Jepang yang berarti “tanaman dalam pot”, sedangkan Penjing adalah bahasa Mandarin yang berarti “panorama alam dalam pot”; tetapi tidak berarti bahwa Penjing harus selalu bernuansa panorama atau yang bernuansa panorama pastilah Penjing. Yang dimaksudkan “panorama” oleh Penjing adalah suatu cuplikan alam yang indah, sehingga Penjing bisa berupa panorama yang ada pohonnya ataupun yang tidak ada pohon. Oleh sebab itu, pengertian Penjing adalah sangat luas, ada Shuihan Penjing (Water and land Penjing), Bigua Penjing (Wall-hanging Penjing), Shansui Penjing (Rock Penjing) dan yang terakhir, Shujuang Penjing yang sama dengan apa yang kita sebutkan “Bonsai” selama ini.

 Kata “Bonsai” sendiri, dalam bahasa Mandarin dieja “Penzai” yang artinya “tanaman dalam pot”. Segala tanaman yang ditanam dalam pot disebut Penjai; tetapi pengertian “Bonsai” yang kita anut selama ini, oleh Cina disebut “Shujuang Penjing” atau Penjing Tanaman. Tetapi pada prakteknya saat bercerita mengenai Shujuang Penjing (atau Bonsai), kata “Shujuang” sering tidak disebut, dan hanya menyebut Penjing. Dalam konteks ini, Penjing adalah sama dengan Bonsai dengan segala gaya yang kita kenal dalam Bonsai, bisa hanya berupa sebatang pohon tunggal yang ditanam dalam pot tanpa bernuansa panorama, ada asesori atau tidak. 

Jadi kalau kita melihat dalam pandangan “micro”, Penjing adalah sama dengan Bonsai karena kita berbicara dalam konteks sempit, dalam topik “Bonsai” dengan menghilangkan kata “Shujuang”. Biasanya ini adalah masalah kemudahan pengucapan atau kebiasaan dalam penterjemahan di buku atau artikel.

Tetapi kalau kita berbicara dalam konteks “macro”, Penjing adalah berbeda dengan Bonsai dalam hal beberapa cirri karakter yang khas, tetapi bukan dalam hal gaya atau ada tidaknya asesori.

 Mungkin dapat kita umpamakan “Kucing adalah binatang, tetapi binatang belum tentu kucing”; jadi Bonsai adalah Penjing, tetapi Penjing belum tentu Bonsai !

 Contohnya : The Singapore Penjing & Stone Appreciation Society, adalah salah satu organisasi yang memakai kata Penjing di mana tidak hanya mewadahi seni Bonsai, tetapi juga seni Penjing yang lain termasuk Shansui Penjing (Rock Penjing) walaupun lebih didominasi oleh Bonsai.

Demikian juga di Cina sendiri, banyak yang mulai memakai istilah Penzai atau bonsai daripada Penjing sebagai akibat dari interaksi global dengan dunia luar.

 Filsafat dasar yang sangat menyolok dalam seni Penjing adalah “Yuan yu zi ran, Gao yu zi ran” (Terinspirasi dari alam dan mengacu pada alam) sehingga nuansa seni Penjing tidak terlepas dari kesan cuplikan alam yang cantik dan puitis; sentuhan rekayasanya tidak dominan.

Seni Bonsai lebih bersifat dogmatis dan religius, sedangkan Penjing lebih simbolik dengan naturalisme yang kental dan memberikan kebebasan berekspresi yang lebih luas.

Seni Penjing tidak menuntut kesempurnaan fisik karena fenomena alam pada dasarnya adalah yang paling sempurna termasuk ketidak-sempurnaannya; yang ada adalah keindahan yang harmonis ! 

Sebuah karya Penjing, apapun bentuk dan gayanya, sangat mengutamakan “yujing”, yaitu nuansa alam yang puitis; berbeda dengan Bonsai yang lebih mengutamakan kesempurnaan fisik.

 Penjing lebih menitik beratkan pada keindahan dan keharmonisan keseluruhan, presentasi yang dapat memberi pesan dan kesan tersirat dan bukan kesempurnaan dogmatis yang tanpa makna. Dalam seni Penjing, selain penguasaan konsep estetika seni, penguasaan hukum alam juga sangat penting termasuk ilmu fisiologi dan morfologi tanaman. Bonsai lebih mengandalkan tehnik rekayasa untuk mencapai kesempurnaan fisik sesuai kriteria dan norma yang sering dianggap sebagai aturan yang baku.

 Wawasan, pengetahuan dan latar belakang kebudayaan dan politik sangat berpengaruh pada kedua seni tersebut.  Sifat rasional dan disiplin tinggi pada bangsa Jepang terefleksi dengan sangat jelas pada Bonsai; sebaliknya pada seni Penjing sangat bernuansa sentimentil. Hal ini disebabkan seni Penjing sangat banyak terinspirasi oleh lukisan klasik Cina dan puisi jaman dinasti Tang di mana saat itu banyak sekali seniman dan pujangga yang merasa frustrasi dengan keadaan politik yang menghambat karier mereka di pemerintahan, kemudian terefleksikan dalam karya-karya seni mereka yang melankolis. Salah satu gaya yang paling klasik adalah gaya “Wen ren shu” atau “Shu Hua Shi” atau yang sering kita kenal sebagai gaya literati atau bunjin. Jadi adalah salah besar kalau ada yang menganggap gaya bunjin adalah gaya kontemporer. 

Berhubung keterbatasan bahasa Inggris oleh para seniman Penjing di Cina, kemudian memang sangat sulit menterjemahkan bahasa Cina ke bahasa lain terutama dalam hal seni, sehingga sangat kurang sosialisasi seni Penjing ke dunia luar. Akibatnya, banyak yang salah kaprah dan salah menginterpretasikan seni Penjing sebagai bentuk seni yang sama sekali berbeda dengan Bonsai. 

Apabila Shujuang Penjing adalah sama dengan Bonsai, lalu bagaimana membedakannya ?  Padaq dasarnya sama, yang beda adalah beberapa sentuhan ciri karakter yang khas. Untuk membedakannya, kita perlu mempelajari kelima aliran utama Penjing yang disebut “Zhong Guo Pen Jing Wu Da Liu Pai”. Tanpa mempelajari sejarah, falsafah, konsep, tehnik dan karakter kelima aliran tersebut, kita akan sangat bingung untuk mendifinisikan Penjing dan membedakannya dengan Bonsai ala Jepang.

Lalu, apakah perlu kita membedakan Penjing dan Bonsai ? Menurut saya, hal tersebut tidak terlalu penting. Alasannya karena dalam zaman globalisasi ini, semua bentuk seni sudah saling berinteraksi termasuk seni Bonsai. Bahkan di Cina sendiri, kelima aliran yang dulunya sangat berbeda karakter, sekarang sudah semakin kabur. Walaupun secara kasat mata, kita masih dapat membedakan “Bonsai” ( Penjing) yang dibuat oleh seniman Cina, tetapi bagi saya, hal tersebut sekedar istilah dan masalah ciri-khas baik yang tersurat maupun tersirat, seperti hal-nya kita biasa membedakan Bonsai buatan Taiwan atau orang asing yang dapat membedakan Bonsai buatan seniman Indonesia.

 Lalu bagaimana cara penilaian atau menjuri Penjing ?

Sama saja, tidak ada bedanya dengan cara menjuri Bonsai. Kalau karya tersebut bernuansa panorama dengan banyak pohon, ya kita nilai seperti layaknya kita menilai Bonsai gaya grouping atau forest; kalau karya tersebut bernuansa panorama tetapi hanya ada satu atau dua pohon, ya kita nilai semua elemen komposisinya; dan kalau karya tersebut seperti Bonsai, walau sangat berciri khas Penjing, ya kita nilai seperti layaknya kita menilai Bonsai.

Yang menjadi masalah, terutama para juri Indonesia adalah bahwa mereka terjebak oleh sistem penjurian yang dibuat PPBI, lalu kurangnya wawasan  para juri yang rekruitmennya dari awal sudah salah, sehingga mereka tidak mampu membaca yang tersirat. Tugas para juri “instant” tersebut lebih sebagai petugas pemberi nilai layaknya guru sekolah menilai kertas ujian “multiple-choice”, tetapi tidak mampu menilai jawaban ujian yang bersifat “open question”. Mereka hanya diajarkan apakah jawaban yang benar itu a, b, c atau d,  tetapi mereka tidak memiliki kemampuan menilai jawaban esai yang kreatif.

Jadi kalau ada yang mengusulkan untuk memisahkan penjurian Bonsai dengan Penjing, itu karena ketidak-pahaman mereka. Kalaupun dipisah, bila mereka tidak menguasai konsep Penjing, lalu mau menilai dengan intrumen apa dan kriteria yang bagaimana ? Bagaimana kita dapat menilai sesuatu yang kita tidak memiliki barometernya ?

Masalah ini bukan saja terjadi di Indonesia, tetapi di man-mana. Oleh sebab itu, saya terinspirasi untuk menulis buku ke-tiga saya yang berjudul “The Five Schools of Chinese Penjing” yang mudah-mudahan dapat terbit dalam tahun ini. Ini adalah buku sejenis pertama yang ditulis dalam bahasa asing selain bahasa Cina, mengenai segala seluk-beluk seni Penjing secara lengkap. Usaha saya ini sudah mendapat restu dari organisasi Penjing di Cina dengan dukungan bahan literature serta foto-foto karya dari para seniman Penjing di Cina.

 

 —————————————————————————————————————

 

Shuihan Penjing

( Oleh : Robert Steven )

 

Shuihan Penjing adalah salah satu gaya dalam Penjing Cina yang sangat popular dengan menampilkan panorama alam bernuansa tepi danao atau sungai. Keunikan Shuihan Penjing terletak pada pemakaian wadah tanam berupa pot tipis yang terbuat dari marmer putih untuk mempertegas kesan permukaan air pada karya tersebut.

 

  

 

Shui = Air, Han = Daratan; Shuihan Penjing = Penjing yang menampilkan pemandangan air dan daratan.

Shuihan Penjing adalah salah satu gaya dalam Penjing Cina yang menampikan suatu panorama alam bernuansa tepi danao atau sungai dengan elemen pohon sebagai objek utama.

Filsafat dasar dari Shuihan Penjing adalah “Yuan yi zi ran, gao yi zi ran(Inspirasi dari alam dan mengacu pada kesempurnaan alam).

Konsep dasar Shuihan Penjing adalah menampilkan suatu cuplikan panorama alam yang menggambarkan pohon-pohon yang tumbuh di daratan pinggir danao atau sungai; dan elemen air tersebut direpresentasikan dengan ruang kosong dasar wadah tanam, biasanya memakai pot tipis yang terbuat dari marmer putih.

Untuk mempertegas kesan air yang dalam, biasanya dipakai bebatuan yang bagian bawahnya dipotong rata dan kemudian ditempelkan ke dasar wadah untuk membentuk garis pinggir sungai ataupun pulau-pulau kecil. Dengan bentuk bebatuan demikian, terkesan sebagian batunya berada di bawah permukaan air sehingga walaupun tidak ada air benaran, ilusi permukaan air dapat ditampilkan secara apik.

Pohon yang ditampilkan bisa saja tunggal atau berkelompok, bisa tumbuh di atas batu, bentuk raft dan lain-lain dengan berbagai gaya. Yang penting adalah bagaimana menampilkan gaya pohon tersebut sesuai dengan hukum alam serta tema yang ingin disampaikan; termasuk hukum hortikultura dan aspek fisiologi tanaman. Contohnya,  pohon yang hidup di pinggiran sungai biasanya cenderung untuk tumbuh mengarah ke sumber air mengikuti arah pertumbuhan akar.

Wadah tanamnya tidak harus berwarna putih dan tidak harus terbuat dari marmer; tetapi harus diakui, wadah yang terbuat dari marmer putih tetap memberi nuansa yang paling indah khususnya dalam merefleksikan nuansa air. Yang penting wadah tersebut harus setipis mungkin karena dengan wadah yang tipis, kesan ruang panoramannya akan lebih luas, presentasi pohonnya lebih kuat dan permukaan airnya akan terkesan lebih dalam.

Ada tiga aspek estetika dasar yang sangat penting dalam membuat Shuihan Penjing yaitu : Komposisi, Dimensi dan Perspektif. Ketiga teori dasar tersebut tidak bisa berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan erat dalam membentuk hasil keseluruhan yang harmonis.

Komposisi

 

Komposisi pada Shuihan Penjing adalah tata-letak dan penyusunan  pohon, bebatuan serta objek lain pada bidang pandang datar yang dilihat dari depan. Saat kita membuat Shuihan Penjing, kita harus selalu beranggapan seakan-akan ada sebuat bingkai pada pandangan kita seperti sebuah kanvas  kosong yang akan kita lukis sebuah pemandangan.

Tata letak setiap pohon atau kelompok pohon, besar-kecil, tinggi-rendah yang sedemikian rupa  harus membentuk sebuah komposisi yang harmonis dan indah dipandang.

 

Pertama yang perlu kita lakukan adalah memilih pohon atau kelompok pohon yang akan dijadikan objek utama sebagai focus pandang. Fokus pandang harus berupa pohon atau kelompok pohon yang paling dominan, dalam hal ini biasanya adalah pohon atau kelompok pohon yang paling besar. Kemudian menentukan posisi objek utama tersebut sesuai dengan gaya kreasi yang ingin kita buat dan harus disesuaikan dengan bahan pohon yang tersedia.

Bila kita akan membuat gaya kelompok (grouping), maka kita harus tentukan terlebih dahulu  letak  kelompok utama tersebut sebagai focus pandang.

Letak pohon atau kelompok pohon utama sebaiknnya jangan di tengah-tengah wadah untuk menghindari komposisi yang berbentuk segi-tiga sama kaki atau simetris karena komposisi yang simetris agak membosankan. Komposisi yang baik adalah komposisi yang asimetri yaitu komposisi yang membentuk segi-tiga tidak sama kaki.

Dari komposisi-lah, kita akan membentuk sketsa dasar dari panorama yang ingin dibuat. Komposisi yang baik akan menghasilkan panorama yang indah sekaligus menunjukkan sejauh mana kita memahami hukum dan fenomena alam nyata  serta prinsip hortikultura.

Saat membuat komposisi, kita harus menentukan di mana bidang air yang akan kita bentuk, kemungkinan arah batang akibat erosi, arah cabang mengikuti arah akar, arah perdaunan mencari sinar matahari dan lain-lain.

Bila karya tersebut merupakan gaya kelompok, maka tidak selalu semua pohon mengarah ke satu arah, bisa saja saling berhadapan, tetapi hindari arah yang saling bertolak-belakang. Bentuk pohon-pohon yang dipakai juga tidak harus semua sama, justru di sinilah diperlukan kepiawaian mengolah gerak komposisi yang indah, dinamis dan harmonis, penuh variasi untuk menghasilkan suatu panorama yang apik dan kreatif.

Komposisi yang indah bukan hanya ditentukan oleh bentuk pohon, tetapi juga ditentukan oleh bentuk dan kontur daratan yang kita buat, bahkan penataan ruang kosong pada bagian tertentu. Perlu diingat bahwa ruang kosong adalah bagian dari komposisi yang penting.

 

 Dimensi

Dimensi pada Shuihan Penjing adalah  penataan tata-letak pada permukaan wadah yaitu di mana kita letakkan pohon, batu, daratan dan air termasuk bentuk garis pinggir sungai beserta pulau-pulau kecilnya (dilihat dari atas).

Tata-letak tersebut sangat berpengaruh pada perspektif pandang yang akan kita bentuk selanjutnya; letak objek utama yang agak ke belakang akan memberi kesan ruang pandang yang lebih luas pada bagian depan dan memungkinkan kita untuk membentuk “foreground”; sedangkan letak objek utama yang agak ke depan akan memungkinkan kita untuk menarik perspektif yang lebih dalam atau membentuk latar belakang yang lebih jauh (background).

Bentuk dimensi bagian depan harus membentuk lengkungan ke dalam dan bukan cekung ke depan karena bentuk yang melengkung akan memberi efek pandang yang meluas.

Ada beberapa hal penting dalam tata-letak penyusunan dimensi di Shuihan Penjing antara lain :

- Hindari terbentuknya suatu garis lurus pada susunan pohon-pohon ataupun pulau-pulau.

  Letak setiap pohon atau setiap kelompok sebaiknya membentuk garis zig-zag.

- Hindari jarak yang sama antara satu pohon dengan pohon yang lain ataupun antar

  kelompok.

- Hindari bentuk garis pinggir sungai atau pulau yang lurus, sebaiknya ada lengkungan-

  lengkungan atau liukan-liukan tidak beraturan yang membentuk tanjung dan teluk.

- Bila kita membentuk selat atau aliran sungai, maka sebaiknya selat atau sungai tersebut

  tidak berbentuk lurus dari depan ke belakang, tetapi berbentuk liukan zig-zag ke

  ke samping, kemudian semakin mengecil/menyempit pada bagian yang menjauh ke

  belakang.

Perspektif

Perspektif adalah persepsi pandangan kita dari depan terhadap dimensi suatu/kelompok objek; dalam hal Shuihan Penjing, perspektif sangat penting dalam membentuk suatu pemandangan alam yang dapat memberi kesan adanya kejauhan. Berhubung wadah tanam yang sangat terbatas, maka perspektif dapat dikamuflase dengan besar-kecil, tinggi-rendahnya pohon, letak setiap kelompok pohon atau daratan dan batu kepulauan serta kontur tanah, bahkan tata letak cabang setiap pohon.

Permainan kontur tanah dan tata letak batu serta garis daratan menjadi lebih penting lagi dalam membentuk perspektif bila karya kita hanya menampilkan jumlah pohon yang sedikit atau tunggal. Selain itu, pemakaian assesori bahkan jenis rumput dan lumutpun dapat memainkan peranan penting.

Selain ketiga aspek estetika dasar tersebut di atas, ada lagi lima aspek teknis penting dalam pembuatan Shuihan Penjing yaitu :

Objek Utama dan Pelengkap

Dalam sebuah karya Shuihan Penjing selalu harus ada objek utama yang menjadi fokus pandang. Objek utama tersebut bisa berupa pohon tunggal atau kelompok yang terdiri dari beberapa pohon. Dalam hal Shuihan Penjing, pohon tetap merupakan objek yang dominan dan bukan batu seperti dalam Sanshui Penjing.

Selain objek utama, ada 2 jenis objek pelengkap yaitu objek pelengkap untuk menarik skala pembanding kepada objek utama, dan objek pelengkap untuk aksentuasi serta untuk membantu membentuk dimensi dan menarik garis perspektif.

Bila objek pelengkap aksentuasi diletakkan di bagian belakang, maka akan menarik garis perspektif ke belakang untuk membentuk “background”; dan bila diletakkan di depan, akan membentuk “foreground”. Objek pelengkap aksentuasi bisa lebih dari satu, tetapi antara satu objek dengan objek yang lain harus terintegrasi secara baik dan jangan sampai terkesan terpisah sendiri-sendiri yang tidak sinkron.

Asimetris tetapi Berimbang

Hal ini berkaitan dengan komposisi. Prinsip utama dari komposisi yang baik adalah “hindari bentuk yang simetris”. Susunan secara keseluruhan sebaiknya membentuk segi tiga tidak sama kaki karena bentuk segi tiga sama kaki yang simetris dianggap statis dan membosankan. Keseimbangan visual adalah sangat penting untuk membentuk komposisi yang harmonis; sering sekali ruang kosong yang luas justru dapat memberikan suatu kesan yang indah dan dinamis sehingga objek pada fokus tampak lebih tegas dan monumental.

Hindari peletakkan objek utama di tengah untuk menghindari bentuk komposisi yang simetris.

Senada tetapi Bervariasi

Jenis pohon yang dipakai sebaiknya sejenis seperti kita membuat bonsai gaya Grouping dan jenis batu yang dipakai harus sejenis dengan asumsi bahwa pada suatu daerah tertentu pada alam nyata hanya mempunyai satu jenis bebatuan yang sama.

Perlu diketahui bahwa batu juga sama seperti kayu yang memiliki urat atau alur yang dibentuk oleh alam secara alamiah akibat aliran air, erosi dll.; oleh sebab itu, peletakan batu juga harus diperhatikan supaya seirama.

Irama dan gerak pohon-pohon juga harus senada dengan fenomena alam yang ingin ditampilkan, tetapi tetap harus bervariasi dengan aksentuasi untuk memperindah gerak yang dinamis dan tidak monoton.

Contohnya bila kita membuat sebuah pulau dengan pohon-pohon yang tumbuh tegak lurus, maka boleh saja ada pohon dekat ke air yang tumbuh dengan gerakan batang melengkung miring ke arah air. Pohon di bagian belakang yang agak dimiringkan ke belakang juga dapat membantu menarik perspektif kedalaman; dan kadang-kadang pohon yang letaknya di pinggir pot sengaja  dimiringkan sehingga keluar dari bibir pot justru memberi kesan bidang yang lebih luas dan tanpa batas.

Jadi bentuk pohon tidak harus semua sama, arah bisa berhadapan atau satu arah, tetapi hindari arah pohon yang saling bertolak-belakang.

Proporsi dan Skala

Proporsi dan skala dalam karya Shuihan Penjing memainkan peranan sangat penting untuk menciptakan suatu pemandangan yang alami dengan teori perspektif yang relevan.

Setiap objek yang dipakai dan peletakannya harus selalu mempertimbangkan ukuran yang menunjukkan skala dan proporsi imajinatif yang logis. Umpamanya bila kita memakai asesori jembatan, perahu, pagoda, patung manusia atau binatang, maka kita harus memperhatikan ukuran setiap asesori tersebut dan korelasinya serta  posisi di mana kita letakkan dibandingkan dengan objek fokus. Bila ada lebih dari satu asesori sejenis yang dipakai, maka yang letaknya lebih ke belakang harus berukuran lebih kecil sesuai dengan hukum perspektif.

Bukan hanya dalam hal pemakaian asesori, bahkan pemakaian jenis rumput, lumut dan batupun bila diimplementasikan secara baik akan menghasilkan karya yang sempurna.

Alami

Pada karya Shuihan Penjing, yang paling penting adalah memberi kesan alami dan hindari kesan seperti prototype sebuah taman buatan yang artificial karena esensi dari Shuihan Penjing adalah sebuah cuplikan fenomena alam nyata yang alami, sebuah karya seni dan bukan sebuah hasil kerajinan tangan.

Oleh sebab itu, hindari bebatuan yang dibuat dari semen karena jejak rekayasa sangat sulit dihindari. Pemakaian asesori jangan berlebihan dan menyolok karena akan terkesan seperti taman buatan; prinsip pemakaian asesori adalah hanya sebatas sebagai pelengkap aksentuasi pada tema.

Perawatan

 

 

Shuihan Penjing tidak sulit untuk dirawat, penyiramannya sama seperti kita menyiram bonsai; yang penting harus memperhatikan pemupukannya sehubungan dengan media tanam yang relatif sangat sedikit dan terbatas. Sebaiknya selalu memakai pupuk organik yang dicampurkan pada media tanam tersebut dan secara periodik diberikan pupuk butiran NPK serta pupuk daun yang dicampur dengan Vitamin B-1.

Dengan wadah yang tipis, tidak perlu ada lobang drainase karena air akan dengan mudah mengalir keluar ataupun menguap.Untuk menghindari erosi, permukaan tanah sebaiknya ditutupi dengan lumut atau rumput halus dan segera tambahkan tanah bila ada bagian yang terjadi erosi. Sebelum diberi lumut, bagian atas tanah perlu dilapisi terlebih dahulu dengan tanah liat supaya lumut dapat hidup sehat.

 ———————————————————————————-

 

Bonsai Bagaimana Yang Disebut Bagus

( Oleh : Robert Steven )

 

Tidak semua tanaman yang dibentuk semau kita dan ditanam dalam pot bisa disebut sebagai bonsai. Bonsai yang bagus harus memenuhi beberapa kriteria dasar, dan bonsai seindah apapun bila tidak disertai dengan wadah yang sesuai, maka belum bisa disebut sebagai bonsai yang bagus.

 

 

Masih banyak orang yang menganggap bahwa bonsai yang bagus sekedar pohon kerdil yang dibentuk rapi dan ditanam dalam pot; padahal untuk membuat sebuah karya bonsai yang bagus, banyak disiplin ilmu lain yang harus kita kuasai antara lain pengetahuan estetika seni, ilmu botani termasuk fisiologi dan morfologi tanaman serta kejelian mengobservasi fenomena alam.

Sebuah karya bonsai dapat dikatakan bagus kalau memenuhi tiga persyaratan dasar yaitu: keindahan artistic, hukum hortikultura serta makna tersirat. Kita dapat membentuk sebatang pohon yang penuh keroposan pada batang dan kita tanam dalam pot pelastik dengan posisi rebah dengan perantingan dan perdaunan yang berantakan dengan pesan tema sebatang pohon tua di alam yang roboh karena diterpa angin topan. Karya tersebut cukup bermakna, tetapi kalau tidak indah, maka tidak dapat disebut sebagai bonsai apalagi wadah tanamnya belum tentu sesuai. Kita juga dapat membuat sekelompok pohon dari berbagai jenis tanaman dengan konfigurasi semaunya dan ditanam dalam pot keramik yang indah. Karya trsebut cukup bermakna dan mencerminkan fenomena alam nyata sesuai hukum hortikultura; tetapi belum dapat disebut sebagai karya bonsai yang bagus karena konfigurasinya tidak indah dan harmonis. Jadi kesimpulannya adalah bahwa keindahan artistik adalah persyaratan mutlak yang harus dipenuhi dalam sebuah karya bonsai walaupun mungkin hukum hortikultura dan pesan maknanya tidak terlalu kentara.

Keindahan artistik dari pohon tersebut mutlak disandingkan dengan wadah tanam yang sesuai; tanpa kombinasi yang terpadu secara harmonis antara pohon dengan wadah tanam, karya tersebut tetap belum dapat dikatakan sebagai karya bonsai yang bagus !

Yang dimaksud dengan hukum hortikultura di seni bonsai ada tiga aspek yaitu: karakter dasar species, aspek kondisi lingkungan serta faktor atmospheric alam.

Setiap jenis tanaman mempunyai karakter dan bentuk dasar sendiri, umpamanya pohon asam berbeda dengan pohon kapok, acasia berbeda dengan cemara udang; tetapi jenis tanaman yang sama dapat berobah bentuknya akibat kondisi lingkungan yang berbeda di mana pohon tersebut tumbuh. Pohon beringin yang tumbuh di lapangan terbuka akan berbeda bentuknya dengan beringin yang tumbuh di pinggir sungai, pohon wahong yang tumbuh di perbukitan batu berbeda bentuknya dengan wahong yang tumbuh di dataran rendah. Hal tersebut bisa disebabkan oleh faktor sumber air, kondisi tanah maupun arah sinar matahari dan lain-lain. Selain kondisi lingkungan tersebut di atas, bentuk sebatang pohon juga dapat diakibatkan oleh gangguan dari luar, umpamanya karena di sambar petir, akibat penyakit, gangguan manusia atau binatang, terpaan ombak, angin ataupun salju; sehingga bentuk pohon pinus yang tumbuh di pegunungan tropis berbeda dengan pinus yang tumbuh di pegunungan Huangshan di Cina.

Ada hal lain yang sangat fundamental yang mengakibatkan perbedaan karakter dan bentuk pohon yaitu aspek fisiologi dan morfologi tanaman. Kedua aspek tersebut adalah sub-disiplin ilmu botani yang mempelajari fisiologi tanaman serta segala aspek yang mempengaruhi bentuk pertumbuhan pohon. Pohon jenis berdaun jarum mempunyai fisiologi dan aspek morfologi yang berbeda dengan pohon jenis berdaun lebar; itu sebabnya pohon pinus atau cemara mempunyai karakter anatomi dan bentuk dasar yang sangat berbeda dengan pohon beringin mulai dari garis batangnya sampai kepada garis percabangannya.  

Pengetahuan tersebut sangat penting bagi para seniman bonsai supaya dapat membentuk bonsai yang lebih dekat dengan kenyataan alam sehingga karakter dan nuansa yang dihasilkan akan lebih relevan. Walaupun pada batas tertentu jenis tanaman bukan menjadi faktor penting dalam membentuk sebuah design bonsai, tetapi seyogianya kita hindari mendesign bonsai jenis daun lebar dengan bentuk pohon jenis berdaun jarum karena kedua jenis tersebut memiliki karakter yang sama sekali berbeda. Contohnya, akan sangat aneh bila kita mendesign bonsai beringan seperti karakter cemara dengan liukan dan keringannya; atau sebaliknya kita design bonsai cemara seperti pohon acasia.

Dalam kenyataan, kesalahan tersebut yang sering terjadi terutama dalam cara membentuk percabangan dan perantingan. Hal tersebut diakibatkan karena kebanyakan dari kita mempelajari seni bonsai dari buku Jepang yang kebanyakan dengan contoh pohon jenis berdaun jarum atau jenis maple yang karakternya berbeda dengan pohon asam; sehingga saring kita mendesign semua pohon kita dengan pelintiran batang dan cabang seperti cemara atau bulat rapi seperti bentuk pohon maple. Kesalahan mendasar tersebut yang menghilangkan karakter pohon tropis kita kecuali beberapa jenis pohon yang memang memilki karakter dasar yang unik seperti santigi dan wahong laut.

Semakin banyak disiplin ilmu yang kita pelajari terutama yang berkaitan dengan estetika seni dan botani, akan semakin luas wawasan kita sehingga kemampuan kita dalam mendesign sebuah karya bonsai akan semakin meningkat; yang akhirnya akan mampu melahirkan karya bonsai yang semakin dekat dengan fenomena alam, berjiwa, bernuansa keindahan artistic dengan kandungan makna tersirat layaknya sebuah karya seni, dan bukan kerajinan tangan yang hanya dinilai kerapian dan tingkat  kesulitan pembuatannya.

  

Buatlah karya bonsai yang indah, mencerminkan fenomena alam yang relevan

dengan makna yang berjiwa…dan yang paling penting,

karya bonsai yang bagus tidak dapat terpisahkan dari tiga unsur utama

yaitu pohon, wadah dan tatakan.

( Salah satu konsep dasar Penjing : Yi Shu – Er Pen – San Ji Jia )

 

Selamat berkarya !

———————————————————————————————–

Pentingnya Wadah Tanam Bonsai

Oleh: Robert Steven

 

Sesuai dengan konsep dasar seni penjing Cina yang menjadi cikal bakal seni bonsai, wadah tanam atau yang sering kita artikan sebagai pot adalah elemen yang sangat penting dan tidak boleh terpisahkan.  “Yi Shu Er Pen San Ji Jia” adalah prinsip dasar yang berarti pohon, pot dan tatakan sebagai kesatuan tiga elemen dalam seni bonsai yang harus selalu ditampilkan secara terpadu dan harmonis.

Walaupun secara harafiah Bonsai berarti tanaman dalam pot (bon = pot; sai = tanaman); tetapi dalam  konsep seni bonsai, pot bisa berarti segala jenis wadah tanam yang dipakai sedemikian rupa sehingga secara estetika terpadu secara harmonis dengan design bonsai tersebut. Wadah tersebut bisa berupa pot, lempengan batu atau marmer, lempengan kayu, bongkahan batu dan lain-lain sejauh wadah tersebut dipadukan secara harmonis dan tematik sesuai dengan pesan serta nuansa yang tepat.

Sebuah bonsai yang sama dapat memberikan ilusi dan kesan yang berbeda bila ditanam pada wadah yang berbeda. Bukan hanya bentuk, tetapi warna, tekstur, ukuran, bahkan ornamen pada wadah tanam ikut berperan penting dalam menciptakan hasil akhir sebuah karya bonsai. Wadah yang tepat akan memperkuat penampilan karakter bonsai tersebut; bahkan wadah tanam dapat menciptakan dimensi ke-empat pada sebuah karya bonsai. Yang disebut dimensi ke-empat pada bonsai adalah ruang di mana bonsai tersebut diletakkan sehingga menciptakan nuansa lingkungan yang sinergis dan harmonis antara objek dengan atmosfir sekelilingnya. Jadi pemakaian bentuk wadah tertentu dapat menciptakan ruang imaginer tambahan pada objek bonsai yang mempertegas pesan tersirat pada karya tersebut.

Selain wadah tanam, objek tambahan lain seperti lukisan atau kaligrafi Cina, patung, suiseki, kusamono atau ornamen lain yang sering dipakai dalam penyusunan di tokonoma juga dapat menciptakan nuansa dimensi ke-empat yang indah dan harmonis pada presentasi sebuah karya bonsai.

Dengan kata lain, pemakaian wadah tanam serta cara menampilkan adalah sangat penting dalam seni bonsai terutama saat pameran atau kontes. Bagaimanapun bagusnya sebatang pohon, bila tidak disertai dengan pemakaian wadah yang tepat dan tidak dipresentasikan dengan baik, bukanlah sebuah karya bonsai yang bagus !  Dengan semakin majunya perkembangan seni bonsai di seluruh dunia sekarang ini, pecinta bonsai semakin mengerti arti dari sebuah wadah tanam bagi bonsai sehingga semakin banyak pemilik bonsai yang semakin selektif dalam pemakaian wadah tanam. Tidak jarang mereka sengaja memesan pot khusus untuk bonsai tertentu sehingga sering harga potnya jauh lebih mahal dari pohonnya sendiri. Jadi wadah tanam untuk bonsai bagaikan kostum bagi seorang peragawati yang tidak dapat diabaikan atau diremehkan.

Maka sangat disayangkan bila sebatang pohon yang bagus ditampilkan dalam suatu pameran dengan wadah pot yang tidak sesuai, jorok, kusam dan kotor; ibarat seorang peragawati yang tampil di kontes pemilihan ratu kecantikan dengan baju yang kusut, sepatu penuh debu dan keningnya masih terdapat bekas tempelan koyo karena sakit kepala malam sebelumnya..atau yang lebih celaka lagi, koyo tersebut masih tertempel !

Hal seperti ini masih sering kita temui dalam beberapa event pameran bonsai di mana selain ukuran, warna dan bentuk wadah tanam yang tidak cocok, juga sangat kotor dan banyak bekas tempelan label nomor registrasi.

Penempelan label nomor registrasi, label nama serta penempatan bendera hasil penilaian yang sembrono adalah sangat mengganggu penampilan sebuah bonsai dan sangat tidak dianjurkan. Hal tersebut sangat menyimpang dari kaidah presentasi sebuah karya seni yang baik dan merupakan suatu pelecehan terhadap karya seni.

Bila kita mencoba mengacu pada textbook bonsai mengenai pemakaian wadah tanam atau pot, sering sekali membingungkan karena tidak adanya panduan yang konkrit; yang ada hanya penjelasan perhitungan matematis antara ukuran pohon dengan ukuran wadah yang dipakai; padahal cara tersebut bisa menjadi rancu. Ukuran dan bentuk serta fitur lain pada wadah tanam tidak dapat ditentukan secara kaku dan matematis karena sangat tergantung pada design, karakter, nuansa dan pesan yang ingin disampaikan.

Wadah tanam untuk pohon yang terkesan kokoh dan tua akan berbeda dengan pohon yang terkesan anggun dan fminin. Bentuk, tekstur, warna serta ornamen wadah tanam juga dapat berperan sebagai elemen counter balance pada design bonsai secara keseluruhan.

Dalam artikel ini saya tidak akan membahas secara mendalam semua elemen yang harus diperhatikan dalam pemilihan dan pemakaian wadah tanam karena terlebih dahulu kita harus mempelajari karakter garis, bentuk, tekstur serta warna supaya semua elemen tersebut dapat dipadukan secara harmonis; selain itu pengetahuan mengenai keseimbangan dan perspektifpun harus dikuasai secara baik (silahkan baca buku saya “Vision of My Soul”).

 

19 Responses to “Artikel Bh. Indonesia”

  1. on 15 Dec 2010 at 4:26 pmarsyadvilla

    pak robert,

    kok blog ini jarang di update ya?

  2. on 27 Dec 2010 at 3:20 amrobert steven

    Ya nih…silahkan ke Facebook saya…

  3. on 29 Apr 2011 at 5:49 amHery

    Terima kasih Om Robert…
    Apa buku ketiga ini telah diterbitkan & bisa diperoleh dimana?

  4. on 07 Sep 2011 at 8:22 amalvsss

    trims…. pak robert atas pencerahannya.

  5. on 30 Nov 2011 at 3:54 amyudhi

    Timakasih Mr. Robert, saat mengerjakan satu materi bonsai, terkadang banyak masukan yang pastinya membuat saya bimbang, terus akhirnya semua menjadi rancu, ada yang memberi masukan ini dihilangkan, ini dikurangi, ini dipotong dll. bagaimana sebenarnya dasar untuk mengerjakan satu materi bonsai tersebut, baik yang konvensional, kontempoler maupun penjing

  6. on 30 Nov 2011 at 11:47 amRobert Steven

    Silahkan baca buku saya “Mission of Transformation”..lengkap dengan konsep design… Tks.

  7. on 05 Jun 2012 at 5:23 pmdeni

    ajari dong

  8. on 15 Jan 2013 at 1:37 amsufyan

    maaf mau nanya,buku anda yang versi bahasa indoesia apa sudah ada?,,terima kasih

  9. on 15 Jan 2013 at 2:42 amRobert Steven

    Belum…mudah-mudahan tahun depan.

  10. on 15 Jan 2013 at 3:02 amsufyan

    amin,okey om mksih,,

  11. on 15 Jan 2013 at 3:13 amsufyan

    amin,okey om mksih,,semoga anda banyk menerbitkan buku yg berkualitas,,yang terpenting bisa mendongkrak kreatifitas seniman indonesia

  12. on 15 Jan 2013 at 3:14 amsufyan

    ,,semoga anda banyk menerbitkan buku yg berkualitas,,yang terpenting bisa mendongkrak kreatifitas seniman indonesia

  13. on 04 Jul 2013 at 5:36 amandy

    siang pak robert, mohon izin save artikel dan fotonya utk dibaca offline.. Terima kasih..

  14. on 04 Jul 2013 at 1:36 pmRobert Steven

    Monggo….

  15. on 05 Mar 2014 at 10:07 amhary widyatama

    Pak Robert, saya masih pemula untuk bonsai. Saya ingin bertanya bagaimana tips merawat santigi spy bisa tumbuh subur? Saya tinggal di kota Malang yg suhunya Relatif dingin. Terima kasih sebelumnya.

  16. on 05 Mar 2014 at 1:17 pmRobert Steven

    Tidak banyak berbeda dgn species lain kecuali Santigi suka matahari penuh.

  17. on 06 Mar 2014 at 9:27 amhary widyatama

    Baik, terima kasih banyak pak Robert.

  18. on 06 Mar 2014 at 9:33 amhary widyatama

    Pak Robert, bagaimana dengan pemberian semprot air laut pada santigi, apakah bermanfaat? Jika iya, apakah hanya bagian daun saja yang disemprot? Bila tidak tersedia air laut, bagaimana cara membuat air laut buatan? Terima kasih

  19. on 06 Mar 2014 at 9:35 amRobert Steven

    Menurut saya tidak perlu dan tidak bermanfaat.

Leave a Reply